The lyrics of waiting by endah n rhesa

i start to write you a love letter when i first met you there
but i just keep it on my secret place
well i am not the only one who adore you anyway
but someday you will know that i am here
i’m just waiting for the moment to tell you
and waiting and i’ll make you all mine
well i’m waiting, waiting, waiting
i dont care what people say about you and what you do
and that i see that perfect lies in you
i believe that the time will come and we will be together
oh i am so in love with you
and i’m falling, falling for you
and i’m just waiting for the moment to tell you
and waiting and i’ll make you all mine
well i’m waiting, waiting, waiting
uuu.. du..du..du..
i’m just waiting for the moment to tell you
and waiting and i’ll make you all mine
well i’m waiting, waiting, waiting for you


posted 2 weeks ago with 1 note
reblog

Selamat KKN 🙆🙋💛💙💜💚❤️ with N. Hadi, Rizka, AJI, Temi, Muhammad, Tresna, novi, Neng Maria, Saiful , fadia, Derry, Puji, Dede, Ari, erie, Ajeng Laita, Friesca Putri, Rinaldo, Anwar, Joewitta, Acep, Fajar Rohman, Yuly tri, Dicky, Tiara, Tina, Alija, Sarah Tresna, Cipta, Rika, Munasyifah, Memes, Celia Alisa, Puspita, Myra, Degia Fitra, and Hadi at Gymnasium UPI – Watch on Path.


posted 1 month ago with
reblog

Shadows of You

BAB 1b

            Tari menyentuh lembut bahu Alan dan menyandarkan kepalanya ketika Alan menoleh. Ia menyunggingkan senyum tampannya kepada Tari dan merangkul pundak Tari.  Tari melengkungkan bibirnya, bahagia. Damai dan hangat melihat Alan tersenyum dan memeluknya saat ini.

            “Aku mencintaimu” ucap Alan sembari menyentuh rambut coklat Tari yang terurai. Tari mendongak seakan tak percaya apa yang didengarnya. Ia membuka mulutnya tapi tidak berhasil menemukan satu kata pun yang tepat. Matanya lurus memandang mata Alan, mencari-cari kesungguhan dengan apa yang telah ia dengar.

             ”Aku mencintaimu.” Ucap Alan lagi seakan ia mengerti apa yang Tari pikirkan tentang dirinya.

             Barulah saat itu Tari tersenyum lega setelah sesaat ia menahan napasnya. Ia memeluk Alan erat, tanpa celah, dan tanpa syarat. Ia mencintai pria dihadapannya ini sungguh-sungguh walaupun banyak kesalahan yang Alan perbuat padanya selama ini.

             Tanpa melihat reaksi Tari dan –tanpa benar-benar Tari menyadari reaksi Alan selanjutnya- Alan mencium kening Tari.  Dalam, sepenuh hati, dan tulus. Hati Tari mengembang, lega, terharu. Ingin meneteskan air mata bahagia dan…

            “MENTARI!” Ketukan pintu keras membangunkan Tari. “TARI?! KAU DI DALAM??? OH AYOLAH!”

           Tari membuka matanya yang berat. Kamarnya berkabut dan dinding putihnya seakan bergerak. Ia menutup kembali matanya lalu membukanya lagi.

           ”TARIII???” Kali ini nada yang didengarnya lebih tinggi.

          Tari beranjak dari ranjangnya dan berjalan terhuyung-huyung menuju pintu kamarnya. Memutar kunci dengan lemah dan membuka pintu kayu bercat putih. Sudah berdiri dengan rapi, Sonia dan segala kekesalannya karena menunggu Tari bangun. Sonia adalah teman satu flat Tari.

         ”Hai” sapa Tari sambil menyunggingkan senyuman –maaf aku bangun terlambat.

         Tanpa Tari suruh, Sonia langsung memasuki kamar Tari dan meletakkan tas serta map plastic yang berisi kertas-kertas penting –yang tidak Tari ketahui- di sofa merah minimalisnya. “Apakah jam-mu sudah tidak berfungsi? Perlu aku membelikannya yang baru?” Tanya Sonia kesal sembari menjatuhkan dirinya ke sofa. “Atau justru ponselmu sudah tidak berdaya untuk mengingatkanmu bangun pukul enam?”

         Tari tidak menemukan kalimat pembelaannya dan mengangkat tangan kanannya sambil mengangguk tanda menyerah. Ia meraih jubah mandi putihnya dan menuju kamar mandi secepat yang ia dapatkan. Hanya dengan tatapan tajam Sonia dan tangan yang ia lipat di depan dadanya, itu sudah menunjukkan Tari untuk segera pergi ke kamar mandi.

         empat puluh menit kemudian Tari siap dan Sonia segera menarik Tari untuk segera menaiki mobilnya. “Kau membuatku terlambat empat puluh lima menit. Apa kau tahu seberapa pentingnya wawancara ini?” Sonia mulai mengomel.

         ”Maafkan aku… Aku lupa memasang alarm.” Tari mengutarakan alasannya bangun kesiangan dan melupakan janji dengan Sonia, sahabatnya semenjak Tari tinggal di flat bersamanya. “Lagi pula seharusnya aku yang marah.” Tambah Tari ketika mereka sudah di dalam mobil.

        “Apa?” Tanya Sonia ketika menutup pintu kemudi.

         Tari menarik napas berlebihan dan mendesah. “Aku sedang bermimpi indah dan kau mengacaukannya.” lempar Tari dengan muka memberengut.

         Sonia memutar kunci dan memasukkan gigi. “Mimpi indah?” Tanyanya sambil mengerutkan kening. “Alan?”

         Tari mengangguk ragu. “Ya.” Tari tahu akibatnya bila ia berani membicarakan tentang Alan kepada Sonia.

        Tiba-tiba Sonia menghentikan mobilnya dengan kasar.

       ”Hei!” Teriak Tari terkejut.

       Sonia melemparkan tatapan sebalnya. “Jadi kau masih berhubungan dengannya? Kapan kau akan berpisah dengannya? Dengar, aku sudah benci melihatmu terus-terusan diabaikannya. Ditinggalkannya. Apa kau tidak pernah sekalipun merasa kasihan kepada dirimu sendiri?” Tanyanya tajam tanpa basa-basi.

       Tari sudah membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan Sonia yang justru seperti perintah tanpa jeda. Tapi Tari mengurungkan niatnya karena Tari tahu, Sonia benar, dan Tari salah.

       Melihat reaksi Tari yang diam, Sonia mengubah posisi duduknya menjadi tepat berhadapan dengan Tari. “Dengar, Mentari. Kau cantik. Kau cerdas. Dan Kau menawan. Aku tahu banyak pria di luar sana yang mengejarmu. Kau pantas bahagia, dear. Kau pantas untuk dicintai. Bukan diabaikan.” Ucap Sonia bijak sambil memegang bahu kiri Tari.

        Oh Tuhan dia benar…

        Tari mengangguk dan tersenyum. Sebenarnya dia sudah mengerti. Hanya saja ia masih belum bisa melepaskan Alan.

         Sonia kembali mengemudikan mobilnya dan melaju mengikuti matahari yang mulai meninggi ke arah Barat Kota Kembang. Menyusuri banyak pepohonan pinus di sisi jalan dan menembus kabut pegunungan yang kini sudah jarang ditemui di sekitar tempat tinggal mereka.

        “Apa yang sedang kau pikirkan?” Sonia memecah lamunan Tari.

         Tari menoleh ke arah Sonia dan tersenyum simpul.  “Aku merasa… sepertinya dia bersama seseorang kemarin”.

         ”Dia? Siapa? Alan?” Sonia menoleh. “Bukankah kemarin kau pergi bersamanya?”

         Tari hanya terdiam dan mengangguk.

         ”Dia mengkhianatimu?”

          Tari menoleh dengan cepat. ” Apa maksudmu dengan mengkhianatiku?”

          Sonia menarik napas. “Alan. Kau tadi mengatakan bahwa Alan dengan seseorang kemarin.”

         ”Aku merasa.” Tari mengoreksi.

          Sonia mengangkat tangan kirinya. “OK merasa, maaf. Itu artinya, kau pergi dengannya tapi kau tidak bersamanya?” Sonia menebak tepat sasaran. Memang naluri jurnalis tidak dapat diremehkan.

          Tari tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menjawab dengan anggukan kecil sambil memperhatikan tangan di pangkuannya yang dengan sengaja ia tautkan sebagai kebiasaannya apabila sedang khawatir.

          Sonia memperhatikan Tari dan ia sudah dapat menyimpulkannya. “Bagaimana bisa kau tidak bersamanya?” Kali ini Sonia bertanya dengan hati-hati.

         ”Well, yah… Kau tahu Electronic Center selalu ramai pengunjung. Dan, aku tidak menemukan Alan di sekitarku.”

        “Berapa lama?”

        Tari menunduk. “Aku pikir sekitar seperempat jam.”

        Sonia belum bereaksi. Ia masih menghubungkan kata-kata Tari dalam pikirannya. “Jadi seperti ini, kau ditinggalkan Alan dan kau merasa ia bersama seseorang? Dari mana kau bisa merasa Alan bersama seseorang?”

        Tari semakin menautkan jari-jari di pangkuannya. “Dia tidak mencariku.”

        Sonia menginjak pedal rem dengan mendadak. Membuat Tari terdorong ke depan sambil menahan dirinya dengan tangannya memegang dashboard.

       ”SONIA!” Pekik Tari.

       ”Kau mengatakan seperempat jam dan ia tidak mencarimu? Kau bertemu dengan seseorang itu?”

        Tari masih melotot kepada sahabatnya itu. “Aku hanya melihatnya melambaikan tangan. Tapi aku tidak melihat siapa orang itu. Dan dia berbohong.”

         ”Apa maksudmu dia berbohong?” Kejar Sonia.

          Astaga, Sonia memang selalu tertarik dengan kabar Alan yang tidak menyenangkan untuk membuatnya mendorong Tari mengakhiri hubungannya dengan Alan.

          Tari menarik napas panjang. “Aku bertanya, dan dia menjawab bahwa dia tidak bersama siapa-siapa.”

         ”Mungkinkah selama ia tidak bersamamu, ia bersama dengan seseorang itu?”

          Tari mengangkat bahunya. “Aku tidak berani memikirkannya.”

          Dan Sonia tidak menemukan kalimat yang tepat untuk merespon ucapan Tari. Ia hanya memandangi Tari di hadapannya ini yang begitu tersiksa dengan seseorang yang ia kasihi.

         ”Mungkin kau benar.” Tari memecah keheningan diantara mereka. “Ia melambaikan tangannya sambil tersenyum.”

        “Oh?”

        “Kau tahu? Senyuman seorang pria kepada seorang perempuan.” Tari tersenyum tanpa sadar. “Senyuman yang sudah lama tidak kulihat.” Ucapnya seperti bisikan sambil menerawang ke jalanan sepi di hadapannya.

        “Oh, Mentari” Sonia kembali memeluk Tari dari Samping. “Aku mengerti betapa berartinya Alan untukmu. Dan betapa hebatnya ia berhasil menyembuhkan masa lalumu -walaupun aku tidak tahu seperti apa itu. Tapi ini sudah sangat keterlaluan.”

         Tari masih terdiam dan menunduk. 

         ”Apalagi yang kau harapkan darinya?”

        Kali ini mata Tari sudah berembun. Tari ingin melepaskan ikatannya dengan Alan seperti ia melepaskan ikatannya dengan seseorang masa lalunya. Sungguh. Tapi itu sangat sulit.

        “Aku akan selalu ada di sampingmu, Mentari. Aku mendukung setiap keputusanmu. Aku tidak akan mendorongmu lagi untuk berpisah-“

       ”Tidak. Kau benar. Aku memang bodoh.”

       ”Tidak-tidak, bukan seperti itu maksudku…”

       ”Sonia, bisa kita lanjutkan perjalanannya? Aku tidak ingin membuatmu semakin terlambat.”

       Sonia mendesah. Ia mempererat pelukannya dan tersenyum mengerti. “Kau akan bahagia. Kau harus bahagia. Kau mengerti?”

         Tari tersenyum dan mengangguk. Mereka melepaskan pelukan dan kembali ke tujuan mereka. Sonia melajukan mobilnya dengan cepat dan fokus. Di sepanjang perjalanan mereka, Tari melihat bukit-bukit tinggi dan kebun sayuran segar. Ia menurunkan jendela mobil dan merasakan langsung udara segar yang jarang ia dapatkan. Sonia melihat Tari dan tersenyum. Ia mematikan tombol AC dan mengikuti Tari membuka jendela mobil. Benar, ini menyenangkan dan sangat alami.

         Akhirnya selama kurang dari setengah jam dari perjalanan mereka, Tari dan Sonia sampai di tempat tujuan riset yang sedang dikerjakan oleh Sonia.

        Mereka turun dari mobil dan langsung disapa oleh dinginnya udara yang menerpa wajah. Memberikan sentuhan alam yang segar dan natural. Mereka terkejut merasakan alamnya dan membuka mulut membentuk huruf O besar sambil menatap pemandangan yang dilukiskan Tuhan. Takjub akan hamparan permadani hijau berbukit luas yang menghiasi setiap sisi jalan.

        “Indah sekali,” bisik Tari terkesima.

       ”Aku tahu. Alasan ini yang membuatku mengajakmu.” Sonia tersenyum bangga. “Ayo ikut aku. Aku harus segera menemui pimpinan perkebunan ini.” Ajak Sonia sembari menutup pintu mobilnya dan menekan tombol kunci di remote controlnya.

      “Apa aku boleh berjalan-jalan di sekitar sini sambil menunggumu dengan Tuan Perkebunan?” Tanya Tari yang sudah sangat menginginkan menjelajahi perkebunan teh dihadapannya.

       Sonia menaikkan sebelah alisnya, “Tuan Perkebunan?” Sonia tersenyum dan menaikkan bahunya. “Tidak masalah.”

        Dengan sangat tiba-tiba Tari memeluk sahabatnya itu erat-erat. Sonia pun terkejut. “Aw! Ada apa denganmu?” Bingung dengan apa yang dilakukan sahabatnya.

         Tari tidak melepaskan pelukan dan semakin mempereratnya. “Terima kasih sudah mengajakku kemari.” Ucapnya sambil memejamkan mata.

          Setelah membuat suasana yang dramatis, Tari meninggalkan Sonia  yang sedang mencari-cari Tuan perkebunan ini untuk melakukan wawancara. Sementara itu Tari langsung berbalik badan, bersiap untuk mendaki perkebunan dan menikmati perkebunan. Sama sekali tidak terpikirkan bahwa ia baru saja bermimpi indah setelah berbulan-bulan lamanya ia sulit tidur dan selalu bermimpi buruk.

          Tari mendaki perkebunan dengan senang hati, dengan tersenyum manis dan menyapa para pemetik teh yang ia jumpai di sepanjang perkebunan. Perkebunan ini memiliki banyak sekali pemetik, tidak heran karena perkebunan ini sangat luas. Para pemetik bekerja dengan sangat cepat dan serius. Terlihat keterampilan mereka memetik pucuk teh yang sudah tidak diragukan lagi membawa kekaguman tersendiri pada diri Tari.

          Bukit perkebunan ini menanjak begitu curam. Banyak kesulitan yang Tari alami untuk sampai hingga ke puncak karena tanahnya yang licin dan tidak ada sesuatu yang dapat ia pegang selain tanaman teh itu sendiri. Namun ia tidak menyerah. Sesekali ia dibantu oleh para pemetik untuk naik.

          Setelah berusaha sekuat tenaga menaiki puncak perkebunan, akhirnya Tari berhasil. Ia langsung terkesiap kagum melihat apa yang dilihatnya. Hamparan permadani lain di sebrangnya yang tak kalah indah, fajar yang mulai meninggi menyebarkan warna jingga yang hangat, dan kota Bandung yang memukau berselimut kabut. Sungguh ini pemandangan yang menakjubkan. Baru pertama kali Tari melihat lukisan tangan Tuhan seperti sekarang. Dan perasaan damai yang meninggalkan seluruh masalah Tari di dunia ini. Sungguh, ini benar-benar… Menakjubkan!

***

          Ethan tengah serius berbincang-bincang dengan pimpinan sebuah perkebunan teh di Barat kota Bandung mengenai pengolahan dan produksi teh perkebunan ini sendiri. Ini bukan kali pertamanya ia menginjakan kaki di tanah perkebunan ini, ia bahkan sangat sering mengunjungi perkebunan walaupun tidak ada hal yang perlu diurusnya. Ethan bukan pula pemilik ataupun karyawan di perkebunan. Ia hanya menyukai teh hasil produksi perkebunan ini dan menyukai suasananya.

          Ia berhenti berjalan dan untuk yang –entah berapa kalinya- ia memandang panorama kota kembang yang terlihat tenang dengan selimut kabutnya dan sinar matahari cerah yang selalu ia suka dan tidak pernah ia lewatkan ketika berada di perkebunan. Ia memejamkan mata dan menghirup udara pagi segar yang khas dengan panjang. Menghembuskannya dengan perlahan sambil membuka mata, dan menikmati kembali lukisan Tuhan dihadapannya.

          Samar-samar Ethan mendengar seseorang yang sedang menarik napas dengan berlebihan dan tertawa kecil. Ia menoleh ke asal suara dan melihat seorang gadis dengan balutan jaket merah sedang merentangkan kedua tangan dan memejamkan mata menikmati dinginnya udara yang dihantarkan angin. Menyibakkan poni dan rambut sebahunya, memperjelas wajahnya yang berseri-berseri dan… cantik.

          Tiba-tiba gadis itu menoleh kepada Ethan sambil tersenyum dengan begitu jelas hingga seseorang yang melihatnya akan tahu gadis itu memiliki lesung pipi yang menawan. Ethan mengerutkan keningnya dan menoleh ke arah lain mencari-cari seseorang yang menjadi tujuan dari senyuman gadis itu. Namun tidak ada siapapun yang menjadi objek dari senyuman gadis itu. Mungkinkah untuknya?

          Ethan kembali pada gadis itu, dan gadis itu sudah menikmati kembali suasana perkebunan sambil memejamkan matanya. Ethan memperhatikan gadis itu lekat-lekat hingga menimbulkan tumpukan bukit diantara alisnya. Dan dengan perlahan Ethan tersenyum menyadari sesuatu, dan pergi meninggalkan tempatnya –dan gadis itu- menikmati karunia Tuhan.

         ”Paman,” Ethan memanggil pimpinan perkebunan dengan sebutan paman karena ia dan keluarganya sudah sangat mengenalnya. “Apa orang yang akan menemui paman sudah tiba?”

         Mendengar suara Ethan, Tuan David yang sedang berbincang dengan mandor perkebunan menoleh. “Ya, ya.” Jawab Tuan David dengan suara beratnya namun sarat dengan keramahan. “Gadis itu sudah menghubungiku sejak sepuluh menit yang lalu. Mari kita turun.” Ajaknya sembari merangkul bahu Ethan.

         Ethan berjalan menuruni bukit perkebunan bersama Tuan David dan dari jarak yang tidak terlalu jauh sudah berdiri seorang gadis dengan pakaian yang sangat formal sedang berbicara dengan seorang karyawan perkebunan. Saat gadis itu menoleh ke arah Tuan David, wajahnya menjadi berseri.

        “Nah, itu dia orangnya.” Ucap Tuan David sambil berjalan mendahului Ethan. 

         Gadis itu langsung menghampiri Tuan David dan menjabat tangannya. Ethan pergi ke arah lain dan tidak menangkap apa yang mereka bicarakan. Nampaknya gadis berpakaian formal itu ingin melakukan wawancara dengan Tuan David.

        “Ethan, bisa kemari sebentar?” Panggil Tuan David sambil mengarahkan tangannya menuju tempatnya.

         Ethan menurut dan menghampiri pamannya dan gadis yang berpakaian formal  itu. “Ada apa paman?” Ethan tidak mengerti mengapa dirinya dipanggil, padahal Ethan tahu dirinya tidak ada kaitannya dengan perkebunan ini -bila gadis itu memang benar- ingin mewawancarai pamannya yang seorang pimpinan perkebunan.

          Sonia berdiri mematung melihat sosok Ethan di sebelahnya yang sudah sangat jelas sosok itu adalah jelmaan Dewa Yunani yang sering ia lihat dalam film. Badannya yang tinggi dan ototnya yang kencang, pahatan wajahnya yang sempurna, dan rambut coklat gelapnya yang menawan mampu menyihir siapapun yang memandangnya. Sonia sudah hampir menyerahkan dirinya ke tanah dengan sukarela apabila tidak ada suara yang membuatnya keluar dari sihir Dewa Yunani di hadapannya ini.

          “Perkenalkan, ini Sonia. Dia sedang melakukan riset tentang pemasaran hasil perkebunan ini. Dia mengatakan ingin mewawancaraimu juga.” Tuan David memperkenalkan Sonia kepada Ethan dan menjelaskan permintaan Sonia.

           ”Aku?” Tanya Ethan dengan kerutan di dahinya.

          “Mmh… seperti ini mister.” Sonia hendak menjelaskan maksudnya.

         ”No. Panggil aku Ethan.” Ethan memotong kalimat Sonia.

         Sonia sedikit terkejut dan menjadi canggung. Ia baru benar-benar tersadar ternyata Ethan bisa berbahasa Indonesia walaupun logat Britishnya masih sangat kental terdengar. “Okay, Ethan. Aku bermaksud untuk menanyakan beberapa hal berkaitan tentang perkebunan ini -oh, lebih tepatnya mungkin penikmat teh. Aku diberitahu Tuan David bahwa kau berasal dari Inggris dan keluargamu -Tomlinson- berada di daftar alamat pertama tujuan teh ini di eksport. Aku merasa tertarik dan ingin menanyakan beberapa hal. Mungkin kau tidak keberatan?” Sonia berhasil menjelaskan maksudnya dengan lancar, memperlihatkan kepandaian dan kemahirannya berbicara.

           Ethan berpikir dan memahami sejenak maksud Sonia dan akhirnya mengangguk setuju. “Tentu. Tapi, bisa aku yang menentukan kapan kita bisa bertemu? Aku memiliki sedikit urusan hari ini.”

          Wajah tegang Sonia berubah menjadi berseri -bahkan terlalu berseri- ketika Ethan menyetujui permintaannya. Sonia pun tidak membuang kesempatan ini, ia langsung menyetujuinya apapun yang diminta oleh Dewa Yunani ini yang membuatnya menjadi lupa akan tujuannya hari ini.

         ”Sonia, apa kau sudah selesai? Aku bisa terlambat kerja.”

          Sonia terkejut dan lagi-lagi membuat dirinya tersadar dan keluar dari sihir ketampanan Ethan. “O-oh. Tari. Ya, tidak.” Sesaat Sonia kehilangan dirinya yang sebelumnya belum pernah ia alami. “Maksudku, aku belum selesai.” Sonia meluruskan. Sadar sedang diperhatikan oleh dua orang penting dalam tugasnya, Sonia menarik Tari lebih dekat dengannya. “Tari, perkenalkan. Ini Tuan David pimpinan perkebunan ini. Orang paling penting di sini.” Sonia memperkenalkan Tari kepada Tuan David dan mereka saling berjabat tangan. “Dan ini…” Sonia tidak menemukan suaranya ketika beralih kepada Ethan.

           ”Ethan” Lanjut Ethan.

         ”Ya. Ethan. Tari, ini Ethan.”  Sonia begitu malu dan tampak bodoh karena ia sudah berkali-kali kehilangan dirinya sendiri hanya karena seorang Ethan.

          “Hai.” Sapa Tari. “Tari.” Ia mengarahkan tangan kanannya ke depan.

          Ethan meraih tangah mungil Tari dan tersenyum dengan senyuman yang dapat membuat kaki setiap gadis yang melihatnya berubah menjadi jelly. “Hai, aku Ethan.” Ethan akhirnya mengetahui siapa gadis yang telah menyunggingkan senyuman kepadanya saat ia berada di bukit perkebunan tadi. Namun Tari tidak menampakkan bahwa Tari –beberapa saat yang lalu- telah menyunggingkan senyuman tanpa alasan kepada Ethan. Mungkinkah Tari tidak menyadarinya, lagi?

                                                   ***


posted 1 month ago with 3 notes
reblog

Shadows of You

BAB 1a

            Tari melangkahkan kaki sendiri di jalanan sempit yang selalu ramai dengan kendaraan dan kios-kios sederhana di sepanjang jalan, menuju tempat seseorang yang sudah setahum terakhir ini namanya ia simpan dengan rapi dalam hati. Ia memperhatikan fotonya berdua dengan laki-laki yang ia cintai di layar ponsel sambil mendengarkan lantunan lembut suara Elisa yang mampu membangkitkan emosi, dancing berhasil membuatnya merenung dan sedikit menekukan wajah. Berharap dalam hati orang yang akan ditemuinya bisa meluangkan lebih banyak waktu untuk dihabiskan bersama. 

            Tari terkejut saat seseorang menepuk pundaknya. Ia langsung melepas earbudsnya saat ia mengenali siapa yang menyapanya. “Harry?” Tari nampak terkejut melihat teman sekelas saat ia masih di bangku perkuliahan.

            “Hay Tari.”

            Tari mengerjapkan matanya. “Hay. Harry, aku tidak menyangka kau di sini. Sedang apa? ”

            Seseorang bernama Harry itu hanya tersenyum dengan senyuman –aku-tinggal-di-sini-sekarang- sambil menoleh ke arah rumah di sampingnya dan Tari.

            Tari mengikuti arah pandang Harry yang melihat ke arah rumah bercat biru. “Aku pikir kau kembali ke Jakarta.”

            Harry menggelengkan kepalanya. “Aku mendapat pekerjaan di sini.”

            “Benarkah?”  

            Harry mengangguk. “Ya. Aku pun hampir tidak percaya bahwa kau ada di dekat sini. Aku melihat fotomu di kamar Alan minggu lalu. Kau tidak pernah memberitahuku di mana kau tinggal.”

            Tari hanya tersenyum. “Kenapa kau tidak menghubungiku? Bagaimana kabar di sana?”

            Harry menggerakkan pundaknya. “Aku tidak ingin Alan salah paham. Semenjak kau pergi, semuanya jadi berubah. Tapi semua baik-baik saja. Beberapa teman kita sudah kuberitahu kabarmu.”

            “Kau harus menelponku. Kita harus mengobrol.” Tuntut Tari.

            “Tentu saja. Ayo masuk, aku tahu kau akan menemui Alan.” Harry membuka pintu rumah dengan ID card yang hanya dimiliki oleh penghuni rumah. Ia pun tetap tinggal di luar dan tidak mengikuti Tari masuk ke dalam.

            Tari berhenti melangkah dan berbalik menghadap Harry untuk menunggunya.

            “Aku tidak perlu mengantarmu ke kamar Alan, bukan?”

            Tari tertawa. “Benar. Baiklah, terima kasih kuncinya.” Tari berbalik dan menaiki tangga menuju kamar Alan.

            Sebelum sampai di kamar Alan, Tari bertemu dengan beberapa orang yang Tari tahu adalah teman-teman kampus Alan yang sampai saat ini masih aktif kuliah dan hampir setiap hari berada di tempat Alan. Mereka sedang melakukan, entahlah yang jelas Tari yakin mereka tidak sedang belajar atau berdiskusi karena TV di hadapan mereka menyala dan laptop masing-masing dari mereka menyala. Tari merasa tidak perlu menyapa mereka karena mereka sepertinya tidak menyadari kehadiran Tari. Lagi pula mereka berada di ujung ruangan jadi ia langsung menuju kamar Alan.              

            “Hai” Sapa Tari saat sampai di ambang pintu kamar Alan dengan senyuman manis ketika ia melihat Alan yang tidak pernah terlepas dari Mac pronya –sekalipun tidak ada hal penting yang harus ia kerjakan.

            “Bagaimana kau bisa masuk?” Tanya Alan dengan nada menuduh.

            “Oh, aku tadi bertemu dengan Harry.” Jawab Tari menyadari kewaspadaan Alan dengan keamanan rumah yang ia sewa bersama dua orang temannya.

            Alan mengangguk dan kembali pada kesibukannya. “Masuklah.” Ucapnya dingin.

            Tari diam dan tertegun mendengar nada yang diucapkan Alan. Untuk dua bulan terkahir ini, Alan telah menjelma dari seseorang yang lembut dan penuh perhatian menjadi seseorang yang dingin. Tari tidak tahu mengapa dan menolak memikirkan hal yang terburuk baginya.

            Tari melangkahkan kaki masuk dan duduk di samping Alan sambil memperhatikan ruangannya yang berantakan seperti biasa. Tari melipat selimut dan meraih kemeja hitam polos Alan lalu menggantungkannya di balik pintu, tempat di mana pakaian yang lainnya tergantung, berharap dapat sedikit membantunya.

            Tari duduk kembali di samping Alan dan memperhatikan wajah Alan yang masih tertuju dengan kesibukannya. Alan menoleh, tersenyum, namun tidak sampai pada mata coklatnya, lalu mencium kening Tari.

            Tari memejakan matanya, aneh. Perasaan hambar dan tanpa cinta lagi-lagi ia rasakan setiap Alan menciumnya. Dulu Tari selalu merasa begitu berdebar saat Alan mencium keningnya hingga Tari takut jantungnya akan meledak karena ketulusan cinta yang dialirkan Alan lewat sentuhannya. Tapi untuk saat-saat terakhir ini, Tari harus merelakan perasaan kosong yang selalu merasukinya. Ia selalu khawatir dan gelisah setiap memikirkan Alan yang kini sudah berubah kepadanya. Tidak lembut seperti dulu, tidak perhatian seperti dulu, dan hampir tidak pernah tersenyum tulus kepadanya. Kini Tari berpikir bahwa ia hanya perlu bersabar dan berusaha untuk membuat Alan kembali seperti dulu. Namun, apa justru Tari sendiri yang tidak ingin menyadari bahwa Alan sudah tidak mencintainya?

           ”Hei, ada apa?” Panggil Alan ketika ia melihat Tari yang sedang sibuk dengan pikirannya.

           ”Ya?” Tari tersadar dalam lamunannya yang menyakitkan. 

           ”Ada apa?”

           Tari menggelengkan kepala sambil memaksakan senyuman. “Tidak apa-apa.”

           Alan mengangguk. “Mau mengantarku ke Electronic Center?” tanya Alan.

           ”Tentu saja.” Tari menaikkan alis “Ada apa?”

            Alan beranjak dari tempatnya dan meraih jaket kulit hitamnya. “Meninjau produk terbaru yang aku inginkan.” Jawabnya tanpa melihat ke arah Tari. Ia meraih kunci di dekat Tari dan keluar untuk memanaskan motor besar hitam legamnya.

              O~oh dia masih saja dingin.

             Sebelumnya tidak ada orang lain yang bisa membuat Tari seperti baja tak tertembus. Hanya Alan yang membuatnya menjadi seperti ini. Apakah penampilannya? Pribadinya? Kepintarannya? Tari tidak tahu betapa tidak rasional pikirannya. Memikirkan hal itu langsung membuat hatinya perih dan kepalanya berdenyut-denyut. Sebelumnya Tari pernah mengalami hal yang jauh lebih buruk dan menyakitkan, namun Tari selalu berhasil lari dari masalah itu. Tapi sekarang, ia tidak tahu kemana lagi ia harus berlari.

            Tari menarik napas, mendesah dengan berlebihan dan beranjak menghampiri Alan. Sambil masih terbayang-bayang dengan hal bodoh yang ia ciptakan sendiri, ia menaiki motor dan pergi bersama Alan.

             Perjalanan tiga puluh menit bersama Alan adalah suatu perjalanan terhampa untuknya. Tidak ada suara dan sepatah katapun yang keluar dari mulut Alan. Bahkan panasnya cuaca hari ini tidak dapat menembus dinginnya sosok pemilik punggung  yang sedang Tari peluk sambil menahan air mata. Sepanjang perjalanan ia hanya meresapi angin polusi dan hiruk pikuk lalu lintas Kota Kembang yang semakin membuat kepala Tari berdenyut. Sempat terlintas di pikiran Tari, mengapa ia bersedia tinggal di sini padahal kota kelahirannya sudah terjamin dengan kenyamanan.

             Mereka sampai di Electronic Center dan memasuki basement yang panas dan  Alan langsung mencari tempat untuk memarkirkan motor kesayangannya. Tari turun dan Alan melepaskan jaket kulitnya lalu berjalan menuju pintu masuk. Keramaian langsung menyambut Tari dan Alan ketika baru saja melangkahkan kaki pertamanya. Alan berjalan cepat melewati para pengunjung yang tidak kalah cepatnya dengan Alan. Namun tidak dengan Tari, ia sedikit kesulitan melawan arus pengunjung yang begitu banyak. Sering kali Tari justru kehilangan sosok Alan yang berjalan lebih dulu tanpa menggandeng Tari. Bahkan hingga Tari benar-benar tidak melihat sosok Alan di sekitarnya.

              “Tolong, apa kau bisa memperlambat jalanmu?” Ucap Tari sambil langsung melingkarkan lengannya di lengan kiri seorang laki-laki. “Aku kesulitan untuk mengimbanginya.” Gumam Tari jengkel.

              Namun sosok laki-laki yang lengannya sedang dipeluk Tari tidak merespon. Dia langsung menghentikan langkahnya dan berubah menjadi tegang. “Maaf, tapi…”

             ”Sudahlah. Aku sudah terbiasa kehilanganmu seperti ini.” Ucapnya sembari merunduk. “Kita kemana sekar -AH?!” Tari terkejut saat menoleh kepada laki-laki yang ia peluk lengannya. Ternganga dan pucat tampak jelas di muka Tari. Ia tidak sedang menggandeng tangan Alan. Itu bukan Alan. Itu… Ia salah mengenali Alan dari belakang. Cepat-cepat Tari melepaskan lengan laki-laki yang Tari pikir sosoknya mirip dengan Alan jika dilihat dari belakang. 

            Laki-laki bertubuh tinggi itu sudah mengerti bahwa Tari salah mengenalinya. Ia pun tersenyum sambil berkata, “Maaf, mungkin aku bukan orang yang kau… Kau tidak apa-apa?”

           Tari masih tampak terkejut, atau bahkan… tertegun? Ia berdiri mematung dan tidak mengatakan sepatah katapun walaupun laki-laki di hadapannya berusaha berbicara dengannya.

           ”Ya Tuhan.” Ucapnya lirih sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya. Tubuhnya lemas seketika dan wajahnya berubah pucat.

           Laki-laki tinggi di hadapan Tari hanya memandangnya dengan ekspresi tidak mengerti dan sedikit khawatir karena melihat reaksi Tari yang berubah menjadi aneh.

          “Maaf… a aku tidak bermaksud… ini… aku harus pergi.” ucap Tari terbata-bata dan langsung meninggalkan laki-laki asing itu.

           Tari berjalan dengan terburu-buru menjauhi laki-laki yang ia salah kenali sebagai Alan hingga ia menabrak banyak pengunjung dan beberapa diantaranya meneriaki Tari karena kesal.

         ”Hei!”

        “Perhatikan jalanmu!”

        “Lain kali jangan kemari!”

        “Maaf, maaf.” Tari tidak memperdulikan kesopanannya kali ini, yang ia butuhkan adalah menjauh dari laki-laki asing yang sudah dengan lancang ia peluk lengannya. Ia ceroboh, sungguh. Ia hanya melihat warna kaos dan blue jeans yang dipakai laki-laki asing itu sama persis dengan yang Alan pakai dan membuat Tari yakin bahwa laki-laki itu adalah Alan. Dan ia, dengan tanpa ragu memeluk laki-laki asing itu. Ya Tuhan…

          Sudah hampir empat puluh lima menit dari Alan menghilang dan Tari sudah kelelahan mencarinya. Ia sudah berkali-kali menaiki lift dan turun lift, juga berkali-kali mencoba menghubungi Alan -hingga ia berniat untuk pergi ke pusat informasi layaknya kehilangan seorang anak- namun tidak satu panggilan pun yang Alan jawab.

           Tari menyerah dan duduk di kursi yang tersedia tepat di depan eskalator sambil memukul-mukul kakinya yang hampir patah. Tiba-tiba getaran dan suara lagu I Knew You Were Trouble milik Taylor Swift mengejutkannya.

           Oh, ya. You were Trouble.

          “Ya? Alan? Kau di man-“

          “Kau yang dimana!" Suara Alan sedikit tinggi dan hampir terdengar seperti suara kemarahan.

          Nada suara Alan membuat Tari langsung terdiam dan ingin menjatuhkan dirinya ke tanah. “Aku… Aku di depan eskalator lantai dua” Jawab Tari lemah.

          “Aku tunggu di basement. Kita pulang.

          Blip.

          Alan langsung mematikan teleponnya. Tari memindahkan ponsel yang semula berada di telinganya ke depan dadanya sambil termenung.

         Apa itu? Kenapa jadi dia yang marah? Seharusnya aku yang…

         Tari memejamkan mata dan menarik napas dalam. Mengusahakan dirinya untuk memulihkan tenaga yang berpusat di hatinya, dan berdiri dengan enggan menuruni eskalator menuju basement.  Panas dan pengap sudah menjadi hal biasa berada di basement, namun Tari justru tidak ingat di mana posisi Alan dan motornya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Alan. Terdengar nada sambung dan ringtone dari arah belakang Tari. Ia menoleh dan mencari-cari sosok jangkung Alan ke segala arah sambil masih meneleponnya. Aneh, sangat jelas dan nyaring ringtone Oasis yang ia kenal, tapi Alan tidak segera mengangkatnya.

           Ah! Itu Alan. Tari segera mematikan panggilannya dan menghampiri Alan. O-oh tunggu. Dia melambaikan tangan kepada… siapa? Tari mengekori arah lambaian tangan Alan. Arahnya ada di belakang Tari. Dengan berlebihan Tari menoleh ke belakang, namun ia tidak mendapat jawabannya. Ia terus mencari-cari sosok yang baru saja ditemui Alan hingga Alan memanggilnya. “Kau mencari seseorang?” Alan sudah berdiri tepat di hadapan Tari.

          Tari terkejut dan malu, pipinya merah karena ketahuan sedang mencari sosok yang Alan temui. “Oh? Tidak. Aku hanya berpikir itu seperti seseorang yang kukenal.” Tari menggosokkan buku-buku jari kanannya ke rahang sebelah kiri. Tari berbohong.

         Alan hanya mengangguk acuh-tak acuh. “Ayo pulang.” Alan berbalik dan menuju motornya.

        “Sudah berapa lama kau di sini?”

        “Hampir setengah jam.” Jawab Alan sambil memakai helmnya.

        Setengah jam? Kenapa ini terdengar sedikit ganjil?

        “Dengan, seseorang?” Tari bertanya dengan nada hati-hati.

        Alan mengalihkan pandangannya. “Tidak.”

Dan Tari tahu, Alan berbohong.


posted 1 month ago with 1 note
reblog

Shadows of You

Judul              : Shadows of You

Genre             : Novel

Story               : Fiksi, Romance, Revenge.

Prologue

            There are so many things I couldn’t say

            Although you have never heard them before

            The day I meet someone who appears in front of me

            I’m not someone who just loves anyone I see

            Among the many people in this world

            I could only see you

            Though your name might become unfamiliar someday

            My heart will remember all the memories

            Even if a painful separation comes between us

            Let’s not think about it today

            I’m not alone now

            At that place today, only you came to me

            I’ll be standing here looking only at you

            After this love, I don’t really know what will happen

            Like what children always do

            Will you warmly hold me right now?

            Closer

            Warmer

            Will you hold me?

           (Taeyon-Closer)


posted 1 month ago with 1 note
reblog

Cinta/Obsesi/Hobi

Iya, saya memang enggak tahu kata mana yang paling tepat buat mendeskripsikan apa yang saya rasakan.
Saya amat sangat menyukai novel, film, dan drama.
Bahkan, saya selalu berkeinginan dan mencari sosok-sosok fiksi tersebut di dunia nyata.
Tapi, iya emang udah gila kali ya? He He. Mana ada tokoh fiksi di dunia nyata. Makanya sampai sekarang masih single deh! (Emang nasib).
Jadi, sebagai pelampiasannya saya coba-coba nulis novel dengan segudang karakter di kepala saya.
Emang belum jadi sih, tapi kepengin banget buat di posting sewaktu-sewaktu.
Mudah-mudahan buat (kalau ada) yang baca bisa kasih masukan atau sarannya. Terima kasih sebelumnya :)


posted 1 month ago with 1 note
reblog
Everything has changes. Sometime you need to warm hug. But the sun is enough i guess. Just shine my sun and give me the warm hug ⛅️🙌💜💜💜

Everything has changes. Sometime you need to warm hug. But the sun is enough i guess. Just shine my sun and give me the warm hug ⛅️🙌💜💜💜


posted 1 month ago with
reblog

(Bukan) Pemeran Utama (Raisa)

Untuk 1 minggu ini perasaan saya sedang tidak tenang. Mulai dari gusar, gundah, tidak tenang, was-was, dan kadang-kadang deg-degan. Saya bukannya tidak tahu kenapa, justru saya tahu dengan jelas saya kenapa. Sebuah musyawarah sudah membuat saya seperti ini. Sebuah noda hitam sudah membuat keadaan menjadi seperti ini. Seperti ini?
Mari saya deskripsikan menurut pihak saya. Dengan catatan. Bacalah dengan hati, jangan hanya dengan logika.

Dimulai dari saya baru menjadi seorang warga di kampus. Betapa saya sangat sangat senang sudah menempuh perjuangan dan perjalanan panjang. Bukan karena hanya untuk selamat dari senior, bukan karena hal wajar untuk mahasiswa baru, ataupun bukan karena pacar saya yang senior yang terlibat dalam hal ini. Melainkan saya ingin berada di himpunan. Itu tekad saya.
Selanjutnya apa? Saya berhasil melewati perjalanan itu, dan saya membuktikan tekad saya dengan selalu mencantumkam nama di lembar panitia setiap kegiatan. Bahkan untuk kegiatan yang baru pertama kali saya lakukan. Musyawarah. Kegiatan itu yang saya tahu cukup alot, menguras emosi, tenaga, dan pikiran. Tapi saya tidak tahu, justru sehabis saya -mengalami tidak sehat- saya tetap menghadiri kegiatan tersebut. Tunggu, bahkan saya menginap. Bukan karena ada mantan saya, tapi itu bentuk tanggung jawab dan bagian dari menyandang “gelar” warga. Kurang lebih seperti itu.
Aaah… Saya lelah, ya. Menyita waktu dan energi saya, tentu. Bahkan suatu ketika saya harus dilarikan ke Rumah Sakit. Rumah sakit, okay? Saya harap kalian tidak berpikir itu sakit ringan seperti sakit gigi atau sakit pinggang karena harus 2x darah saya diambil dan 3x perawat gagal menginfus saya. Tapi, sekali lagi, melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk kelak dan karena dijalankan dengan ikhlas serta senang, semua itu tidak akan terasa bukan? Ya, saya nyaman dengan keluarga baru saya!

Tahun selanjutnya berganti, dan saya dengan bangga menyerahkan formulir pendaftaran untuk magang di himpunan. Ooh… Bahkan saat wawancara pun masih terasa menyenangkan! Saya memilih magang di bagian A dan B sesuai minat dan kemampuan yang saya tahu. Walaupun hasil akhirnya saya digeser ke bagian C, saya tetap ingin berada di antara orang-orang hebat. Karena itu bukan alasan untuk saya meninggalkan himpunan. Sama seperti tahun lalu, saya menjadi panitia di beberapa kegiatan. Bahkan mungkin orang-orang di dalamnya cukup bosan melihat saya lagi dan lagi. Hingga di mana musyawarah itu tiba. Pembukaan? Hadir. Pleno-pleno? Saya fraksi hingga LPJ yang bisa seminggu perjalannya. Mandataris? Saya masih hidup. Semua itu karena saya cinta himpunan saya!

Akhirnya tiba tahun di mana saya menjadi pengurus. How exited I am setelah 2 tahun mengenal himpunan dari awal. Saya ditawari untuk menduduki posisi ke-3 dalam himpunan jika saya mengandaikan posisi ke-1 adalah Ketua Umum, ke-2 adalah sekertaris umum, jadi posisi ke-3 di mana saya ditawari itu… Silahkan jawab sendiri.
Saya berfikir itu tidak mudah, sungguh saya tahu tidak mudah. Tapi karena dorongan, saya menerima amanat tersebut. Wow I like in the peak! Saya berhasil mendaki gunung penuh kerikil untuk sampai di puncak. Untuk sampai menjadi seorang pengurus. Saya tidak sabar untuk dilantik dan menjalankannya. Banyak masalah dan hambatan yang saya lewati? Itu sudah pasti. Karena dengan masalah itu saya belajar. Tapi saya masih kuat untuk menjalankannya. Dan saat kegiatan yang saya nanti-nanti tiba… I can’t describe this! I’m sorry. Kegiatan di luar kampus di mana saya harus berkemah dan bertemu para senior serta super senior. Kegiatan yang hanya ada di kampus dan dirasakan sekali selama menjadi mahasiswa (kecuali jika ingin mengulangnya, He He).
Okay let me take you in the point of my story.
I was Sick, again! Saya lagi-lagi dilarikan ke Rumah Sakit dengan gejala yang sama seperti tahun lalu, tapi saya merasa yang kali ini berbeda karena lebih membuat saya tidak bisa apa2. Hanya berbaring dan menolak makan. Ternyata diagnosa saya sama seperti ketika saya menginjakkan kaki di Rumah Sakit. Saya harus tes darah. Di mana darah saya diambil dari lengan saya. Demi Tuhan saya tidak lagi berani membayangkan itu. Beberapa detik saya berhasil melalui rasa sakit itu karena sebelumnya saya pernah mengalaminya. Sehingga saya berjalan meninggalkan Lab untuk kembali dan menunggu hasilnya di ruang pemeriksaan. Tahu kah kalian? Ketika saya berjalan menunggu eskalator, tiba-tiba tubuh saya goyah. Badan saya menjadi sangat ringan, dan pandangan saya kabur. Tapi samar-samar saya mendengar Ibu saya berkata untuk pelan-pelan. Astaga saya terhuyung dan hampir jatuh jika tubuh saya tidak ditopang. Saya beranikan diri untuk berjalan dan duduk. Saya sudah setengah sadar! Dan saya merasa mual dan memuntahkan apa yang ada di dalam perut saya. Dari situ saya baru benar-benar lega dan sadar. Bahkan saya baru teringat sebelumnya saya hanya sarapan beberapa sendok bubur.
Deman Thypoid lah diagnona dokter. Rawat inap lah yang harus saya jalani. Infus lagi lah yang harus saya hadapi. Saya sabar… Sabar… Saya jalani sesuai perintah dokter saya dan 1 dokter lagi yang menangani sakit kepala saya. Benar, saya sering sakit kepala. Bukan sakit kepala biasa, tapi yang sakitnya hingga ke pundak dan membuat saya tidak bisa tidur. 2 dokter okay?
Jadi mengapa saya menceritakan penderitaan saya? Karen itu adalah awal saya merasa menderita dari segi psikis.
Saya mengundurkan diri dari himpunan. Saya benar-benar mengundurka diri. Bukan karena lari dari masalah atau ingin membuat kehebohan dengan menghancurkam himpunan yang di mana angkatan saya yang menjabat Alasannya seperti ini: selama dirawat, orang tua saya yang menemani, melindungi, membiayai, mengkhawatirkan saya dan bahkan mungkin menderita jasmani rohani. Dan ketika keluarga saya sudah berjuang serta berkorban demi saya, saya tidak bisa menolak dan melawan ketika mereka mengatakan “STOP” untuk kegiatan saya di luar kuliah, yang pastinya bisa kalian tangkal bahwa itu adalah himpunan. Dan jangan berfikir bahwa saya langsung mengundurkan diri, saya butuh waktu berfikir, mempertimbangkan, bahkan saya bertanya kepada orang terdekat karena kebingunan saya. Saya cinta himpunan, tapi saya lebih cinta keluarga saya. Keluarga yang tetap merawat dan mengurus saya setelah saya keluar dari Rumah Sakit, dan Ibu yang hingga sakit karena kelelahan menjaga saya.
Akhirnya saya menandatangani surat pengunduran diri dengan air mata dan ketidaktenangan batin. Bukannya saya geer, tapi saya tahu semua orang kecewa dengan saya. Menyalahkan saya. Membicarakan saya. Saya tidak keberatan, saya tidak apa-apa. Bahkan ketika tidak ada yang mendorong saya, saya masih tidak apa-apa. Saya anggap itu adalah konsekuensi saya. Tapi salahkah jika saya hanya meminta mengerti bagi orang-orang yang tahu masalah saya? Salahkan saya menginginkan dorongan ketika saya merasa tidak ada yang menghargai saya lagi? Saya menderita, saya rindu ketika melihat kalian membicarakan kegiatan, rapat, kumpul, dan kegiatan kecil lainnya yang mewarnai kebersamaan. Saya rindu, kalian tahu? Rindu hingga rasanya tersiksa karena hanya bisa menyaksikan tanpa bisa terlibat seperti biasanya!
Dan ketika musyawarah itu tiba, saya sungguh-sungguh tidak tenang, dan merasa ingin berada di sana membantu kalian. Tapi saya tidak bisa, tidak bisa dan bukan tidak ingin. Saya merasa tidak pantas pecundang seperti saya berdiri di antara kalian yang sedang disidang. Saya merasa pengecut dan membuat malu banyak orang. Tapi saya tetap merindukan kalian yang entah seperti apa sekarang perasaan kalian terhadap saya, yang sudah sedalam apa kalian kecewa kepada saya. Saya merindukan kalian dan seluruh kegiatan yang kita susun bersama. Sungguh… Saya minta maaf. Maaf.
Memang kata maaf tidak membayar kesalahan saya, tapi saya mohon untuk mengerti. Mengerti benar-benar dari hati bahwa saya tidak bisa dan bukan tidak ingin bersama kalian lagi. Saya benar-benar tidak bisa kawan…
Saya selalu berdoa dan memperhatikan kalian dari jauh untuk kelancaran dan kemudahan jalannya musyawarah. Karena hanya ini yang bisa saya lakukan… Semoga kalian berhasil. Dan kalian tetap terhebat bagi saya. Kalian keluarga saya.

"Kau tetap jaya… Sampai akhir masa!"


posted 1 month ago with 1 note
reblog
Keep calm and make your style #selfie #hijab #indonesia #indonesian with #love

Keep calm and make your style #selfie #hijab #indonesia #indonesian with #love


posted 1 month ago with 2 notes
reblog
Cakula’s baby. #kitty #kitten #kittycat #kittylovers #babykitty #instacat #funnycat #cat #cats

Cakula’s baby. #kitty #kitten #kittycat #kittylovers #babykitty #instacat #funnycat #cat #cats


posted 1 month ago with
reblog
1 of 17 »
theme by heloísa teixeira